Google  Yahoo  MSN

Home Klinik Kedokteran

Tuberkulosis Paru

Edisi 0.9
Oleh : dr. Asep Subarkah


Pengertian

Tuberkulosis paru adalah penyakit sistem pernapasan dan jenis tuberkulosis yang menyerang jaringan paru dengan manifestasi klinis terutama batuk lebih dari 3 minggu, batuk darah, demam, nyeri dada, keringat di malam hari, nafsu makan hilang, berat badan turun dan badan letih.

Sinonim : KP, koch pulmonum, respiratory tuberculosis, TB paru | Kompetensi : 04 | Laporan Penyakit : 0201 | ICD X : A.15

Gambar Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis Paru


loading...

Penjelasan

?

Epidemiologi

  • mengancam setiap orang
  • penyakit terbesar kedua di dunia setelah HIV
  • penyakit yang sering terjadi terutama di negara berkembang
  • penyebab kematian ke-2 di Indonesia setelah penyakit jantung
  • kasus baru di Indonesia 228/100.000 populasi/tahun (2007)
  • suspek 12.046 penderita di Makassar dan 53.686 penderita di Sulawesi Selatan (2014); 305.000 penderita di Indonesia (2012)
  • kasus meninggal 1,5-2 juta orang/tahun
  • kasus meninggal di Indonesia 39/100.000 populasi/tahun (2007), 64.000 orang/tahun atau 175 orang/hari (2015)
  • kasus multidrug resistant tuberculosis 22%

Penyebab

Penyebab utama tuberkulosis adalah mikobakterium tuberkulosis. Tuberkulosis dapat pula disebabkan oleh mikobakterium atipikal seperti :
  • mikobakterium bovis
  • mikobakterium afrikanum
  • mikobakterium marinum
  • mikobakterium kansasii
  • mikobakterium skrofulaseum
  • mikobakterium ovium intraselular
  • mikobakterium ulseran
  • mikobakterium fortuitum
  • mikobakterium absesus
Faktor risiko :
Jika terjangkit HIV maka sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan tidak mampu mempertahankan kuman TB tetap tidak aktif. Peluang terjangkit TB meningkat sampai 50-60% ketika terjangkit HIV tetapi hanya 10% jika tidak terinfeksi HIV sepanjang hidup.

Penularan

Jenis

Berdasarkan patogenesisnya :
  • tuberkulosis primer
  • tuberkulosis post primer
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) :
  • tuberkulosis paru BTA (+)
  • tuberkulosis paru BTA (-)
Berdasarkan diagnostiknya :
  • TB paru
  • TB paru tersangka
  • bekas TB (tidak sakit)
Berdasarkan riwayat pengobatan :
  • kasus baru
  • kasus kambuh (relaps)
  • kasus defaulted atau drop out
  • kasus gagal
  • kasus kronik
  • kasus bekas TB
Kasus baru adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan.
Kasus kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan :
Kasus defaulted atau drop out adalah pasien yang telah menjalani pengobatan selama 1 bulan atau lebih dan tidak mengambil obat selama 2 bulan atau lebih secara berturut-turut sebelum masa pengobatannya selesai.
Kasus gagal adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (1 bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
Kasus kronik adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
Kasus bekas TB :
  • hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap dan riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung.
  • pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat pengobatan OAT selama 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologi.
Pembagian lain :
  • tuberkulosis laten : bakteri TB sementara tidak aktif, tidak bergejala dan tidak menular
  • tuberkulosis aktif : bakteri TB langsung memicu gejala dan menyebar ke organ tubuh lain seperti tulang, sistem pencernaan (misalnya hati), kelenjar getah bening, sistem saluran kemih (misalnya ginjal) dan sistem saraf (misalnya otak)

Patogenesis

Tuberkulosis Primer
  • kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonia yang disebut sarang primer atau afek primer
  • sarang primer ini mngkin timbul dibagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi
  • setelah sarang primer akan terlihat limfangitis lokal menuju hilus
  • peradangan tersebut diikuti oleh limfadenitis regional di hilus
  • afek primer dan limfangitis regional disebut kompleks primer
Perjalanan kompleks primer :
  • sembuh tanpa bekas (restitution ad integrum)
  • sembuh dengan sedikit bekas seperti sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus
  • tidak sembuh lalu menyebar melalui perkontinuitatum, bronkogen (di paru tersebut, paru sebelah atau tertelan), hematogen dan limfogen
Penyebaran perkontinuitatum kompleks primer :
  • salah satu contohnya adalah epituberkulosis yaitu penekanan bronkus (biasanya bronkus lobus medius) karena pembesaran kelenjar hilus sehingga menyebabkan obstruksi saluran napas tersebut lalu menimbulkan atelektasis
  • kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, disebut sebagai epituberkulosis
Penyebaran hematogen & limfogen kompleks primer :
  • berhubungan dengan daya tahan tubuh, jumlah kuman dan virulensi kuman
  • sarang yang ditimbulkan dapat sembuh spontan namun akan menyebar bila tidak adekuatnya imunitas hingga menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosis, typhobacillosis Landouzy
  • penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya
  • komplikasi dan penyebaran ini mungkin akan berakhir dengan sembuh dengan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma) atau meninggal
Tuberkulosis post primer
  • nama lain tuberkulosis post primer antara lain tuberkulosis bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun dan sebagainya
  • tuberkulosis post primer akan muncul bertahun-tahun setelah tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun
  • tuberkulosis jenis inilah dapat menjadi sumber penularan sehingga menjadi masalah kesehatan masyarakat
  • tuberkulosis post primer dimulai dari sarang dini yang umumnya terletak pada segmen apikal dari lobus superior dan lobus inferior
  • awal sarang dini ini berbentuk sarang pneumonia kecil
Perjalanan sarang pneumonia kecil :
  • diresorpsi kembali dan sembuh tanpa cacat
  • meluas dan segera sembuh dengan jaringan fibrosis lalu terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk pengapuran namun dapat aktif lagi dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti jika jaringan keju dibatukkan keluar
  • meluas dan membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa) dimana kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar; kaviti awalnya berdinding tipis lalu menebal (kaviti sklerotik)
Perjalanan kaviti sklerotik :
  • meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru yang akan mengikuti pola perjalanan seperti diatas
  • memadat dan membungkus diri (enkapsulasi) disebut tuberkuloma yang dapat mengapur dan menyembuh namun dapat pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi
  • bersih dan menyembuh disebut open healed cavity atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil; kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped)

Diagnosis

Diagnosis tuberkulosis sulit dideteksi terutama pada anak-anak sehingga biasanya memerlukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.
  • anamnesa pasien dan keluarganya
  • pemeriksaan fisik
  • pemeriksaan laboratorium
Tahapan Gejala Klinis
  • asimtomatik
  • gejala khas lalu stagnasi dan regresi
  • eksaserbasi yang memburuk
  • gejala berulang lalu menjadi kronik
Gejala Umum
Demam tuberkulosis :
  • tidak terlalu tinggi atau samar-samar
  • hilang timbul
  • biasanya malam hari
  • berlangsung lama berminggu-minggu
  • biasanya menggigil
  • biasanya berkeringat malam secara berlebihan meskipun tidak melakukan kegiatan
  • mirip influenza
Batuk tuberkulosis :
Gejala Khusus
Gejala Pada Anak
Tanda :
  • tidak ada tanda khusus
  • dapat ditemukan ronki basah pada apeks paru
  • kelemahan
  • berat badan kurang / kurus
  • umumnya penemuan tanda karena komplikasi
Pemeriksaan fisik
  • tanda-tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah dan lain-lain)
  • tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum
  • sekret di saluran napas dan ronki
  • suara napas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus
Pemeriksaan laboratorium :
  • pemeriksaan radiologi : foto toraks (foto rontgen dada) PA dan lateral
  • pemeriksaan kuman TBC : tes sputum, apusan laring, kumbah lambung (aspirasi cairan lambung), bronkoskopi, tes darah / serologi dan cairan otak)
  • uji tuberkulin misalnya tes mantoux
  • pemeriksaan patologi anatomi (PA) : biopsi pleura
  • pemeriksaan darah rutin : LED normal tetapi umumnya meningkat, limfositosis
Foto toraks :
  • bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
  • bayangan berawan (patchy) atau memiliki bercak (nodular)
  • adanya kavitas tunggal atau ganda
  • kelainan bilateral terutama di lapangan atas paru
  • adanya kalsifikasi
  • bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
  • bayangan milier
Pemeriksaan sputum BTA :
  • diagnosis pasti TB paru
  • tidak sensitif karena hanya 30-70% pasien TB dapat terdiagnosis
  • pengambilan dahak sebanyak 3 kali (sewaktu-pagi-sewaktu / SPS) yaitu saat pertama kali datang disebut dahak sewaktu pertama (S), segera setelah bangun tidur pada pagi hari berikutnya disebut dahak pagi (P) dan saat kedua kali datang ketika membawa dahak pagi disebut dahak sewaktu kedua (S)
Pasien anak yang kontak dan tinggal serumah dengan orang dewasa penderita tuberkulosis, ditemukan 30% menderita tuberkulosis melalui pemeriksaan darah / tes serologi dan 30-50% melalui uji tuberkulin positif.
Diagnosis pasti tuberkulosis ditentukan oleh :
  • manifestasi klinis
  • foto toraks (foto rontgen dada)
  • tes sputum untuk menemukan adanya bakteri tahan asam (BTA) : BTA mikroskopis langsung atau biakan
Cara menegakkan diagnosis pasti :
  • BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB dan manifestasi klinis sesuai TB
  • BTA mikroskopis langsung atau biakan (-) tetapi kelainan foto toraks dan manifestasi klinis sesuai TB serta mengalami perbaikan pada pengobatan awal anti TB (initial therapy)
  • memerlukan pengobatan yang adekuat
Tuberkulosis paru BTA (+) :
  • minimal 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan BTA positif
  • satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
  • satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif
Tuberkulosis paru BTA (-) :
  • hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, manifestasi klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif
  • hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan
TB paru tersangka :
  • diagnosis bersifat sementara sampai hasil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan)
  • BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap tetapi kelainan rontgen dan manifestasi klinis sesuai TB paru
  • pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai
Bekas TB :
  • ada riwayat TB dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-)
  • pengobatan tidak perlu diberikan

Penatalaksanaan

Terapi umum tuberkulosis :
  • istirahat : tidak perlu rawat inap
  • diet : bebas tetapi tinggi kalori tinggi protein (TKTP)
  • medikamentosa : obat anti tuberkulosis selama 6-8 bulan tergantung berat ringannya penyakit
Terapi komplikasi tuberkulosis :
  • tuberkulostatika dengan tindakan lain seperti
  • punksi pleura pada efusi pleura
  • operasi pada pott's disease

Komplikasi

  • TB tulang
  • pott's disease (rusaknya tulang belakang)
  • destroyed lung (pulmonary destruction)
  • efusi pleura
  • pneumotoraks
  • gagal napas
  • gagal jantung
  • TB milier
  • meningitis TB
  • anemia
  • syok hipovolemik

Prognosis

  • terapi yang cepat dan legeartis akan sembuh baik
  • bila daya tahan tubuh baik maka dapat sembuh sendiri

Pencegahan

  • membawa penderita TBC berobat sampai sembuh agar tidak menulari lagi
  • melibatkan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) agar penderita minum obat teratur
  • usahakan sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah melalui jendela karena sinar matahari dapat membunuh kuman TBC
  • imunisasi BCG pada bayi
  • menjaga pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi, tidak minum minuman beralkohol, tidak merokok, olahraga teratur, setia pada pasangan dan istirahat cukup

Diagnosis Banding

Penyakit

diabetes melitusGambar Diabetes Melitus : tuberkulosis paru sebagai tanda penting diabetes melitus tahap lanjut dimana infiltrat bisa ditemukan diluar apeks paru.

Obat

Istilah

Referensi

  1. Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2009. Informasi Dasar Imunisasi Rutin Serta Kesehatan Ibu dan Anak Bagi Kader, Petugas Lapangan dan Organisasi Kemasyarakatan. Hal. 1-55.
  2. Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas. Hal. 234-237.
  3. Putu Indah Andriani. 2014. Pendekatan Klinis Infeksi Tuberkulosis pada Kulit. Cermin Dunia Kedokteran 219, Vol. 41 No. 8.
  4. dr. Utomo, Sp.KK. Tuberkulosis Kutis dan Penyakit Parasit.
  5. Johnny Nurman, Darmawan B. Setyanto. Skrofuloderma pada Anak : Penyakit yang Terlupakan ? Sari Pediatri, vol. 12, No. 2, Agustus 2010.
  6. Pamflet. TBC (Tuberculosis). Kesdam VII Wirabuana.
  7. Prof. DR. Dr. A. Halim Mubin, SpPD, MSc, KPTI. 2008. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis dan Terapi. Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal. 230-233.
  8. Arif Mansjoer (ed.), dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. III. FKUI. Media Aesculapius. Hal. 472-476.
  9. Anonim. Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006.

ARTIKEL TERBARU



ARTIKEL FAVORIT



SPONSOR


loading...

A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z


Update 7/09/20