Penyebab abortus imminens pada umumnya adalah kromosom abnormal pada janin.
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi yang menyebabkan kematian atau cacat janin, karena :
kelainan kromosom misalnya trisomi, poliploidi dan kelainan kromosom seks
endometrium kurang sempurna biasanya dialami ibu hamil pada usia tua dengan kondisi abnormal uterus dan endokrin dan sindrom ovarium polikistik
pengaruh eksternal misalnya radiasi, virus, obat dan sebagainya yang dapat mempengaruhi hasil konsepsi dan lingkungan hidupnya dalam uterus, disebut teratogen
2. Kelainan plasenta :
endarteritis dalam vili koriales yang menyebabkan gangguan oksigenasi plasenta sehingga mengganggu pertumbuhan janin dan bahkan kematian janin
penyebab lain keguguran dalam trimester dua ialah serviks inkompeten karena kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan serviks yang luas dan tidak dijahit
pemeriksaan dalam vagina : pembukaan ostium serviks belum ada (serviks tertutup), perdarahan dari ostium dapat terlihat, tidak ada kelainan serviks, tidak ada nyeri goyang serviks atau adneksa
Jika janin masih hidup maka kehamilan dapat dipertahankan. Bila janin telah mati maka dapat terjadi abortus spontan (abortus alamiah).
Penatalaksanaan pada puskesmas non perawatan :
tirah baring : tidak melakukan aktivitas berat namun tidak perlu membatasi aktivitas ringan sehari-hari, selama minimal 2-3 hari, sebaiknya rawat inap, efeknya adalah meningkatkan aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik, membantu wanita merasa lebih aman sehingga memberikan pengaruh emosional
pantang senggama (abstinensia) : karena koitus dapat menstimulasi sekresi oksitosin dan dapat mempercepat pematangan serviks oleh prostaglandin E dalam semen dan meningkatkan kolonisasi mikroorganisme di vagina
tirah baring tetap dilanjutkan bila abortus imminens masih terjadi setelah dilakukan tirah baring dalam 3 hari pertama
mobilisasi bertahap (duduk, berdiri, lalu berjalan) jika tidak ada perdarahan per vaginam dalam 24 jam
Penatalaksanaan abortus imminens pada puskesmas perawatan sebagaimana penatalaksanaan pada puskesmas non perawatan.
progesteron : efektif untuk mempertahankan kehamilan, dapat menurunkan kontraksiuterus lebih cepat daripada tirah baring, tidak memicu timbulnya hipertensi kehamilan atau perdarahan antepartum yang merupakan efek yang dapat membahayakan ibu, tidak menimbulkan kelainan kongenital
human chorionic gonadotropin (HCG) : belum cukup bukti efektif dalam mempertahankan kehamilan, tidak menimbulkan kelainan kongenital
relaksan otot uterus : belum cukup bukti efektif dalam mencegah abortus imminens
profilaksis rhesus (Rh) : disarankan pemberian imunoglobulin anti-D pada kasus-kasus dengan perdarahan setelah 12 minggu kehamilan atau kasus dengan perdarahan gejala berat mendekati 12 minggu
riwayat : usia ibu saat hamil diatas 34 tahun, riwayat keguguran sebelumnya
USG : fetal bradikardi, usia kehamilan berdasarkan HPHT dengan panjang crown to rump berbeda, ukuran kantong gestasi yang kosong lebih 15-17 mm
biokimia serum maternal : kadar beta hCG rendah, kadar beta hCG bebas 20 ng/ml, peningkatan beta hCG kurang 66% dalam 48 jam, rasio bioaktif/imunoreaksi hCG kurang 0,5, progesteron kurang 45 nmol/lL pada trimester pertama