Google  Yahoo  MSN

Home Klinik Kedokteran

Tinea Capitis

Edisi 0.2
Oleh : dr. Asep Subarkah


Pengertian

Tinea capitis adalah dermatofitosis pada kulit kepala, rambut kepala, alis mata dan bulu mata karena microsporum dan trichophyton.

Sinonim : tinea kapitis | Kompetensi : ? | Laporan Penyakit : ? | ICD X : B.35.0

Gambar Tinea Capitis

Tinea Capitis (memorang.com)



Penjelasan

?

Penyebab

Faktor Risiko


  • kebersihan yang buruk
  • penduduk yang padat
  • status ekonomi yang rendah

Jenis

Patogenesis

  • jamur menyerang stratum korneum dan masuk ke folikel rambut yang selanjutnya akan menyerang bagian luar atau sampai ke bagian dalam rambut, bergantung pada spesiesnya.
  • jamur hidup pada keratin rambut yang telah mati
  • jamur tersebut dapat menyebabkan keratolitik karena keratinase
  • lebih banyak pada usia prapubertas karena menurunnya asam lemak dalam sebum
  • awal infeksi melalui perifolikuler stratum korneum kemudian hifa tumbuh ke dalam folikel dan berkembang membentuk rangkaian spora dan berhenti pada pertemuan antar sel yang memiliki inti sel dan mempunyai keratin tebal.
  • pada ujung hifa dijumpai bagian luar intrapilari hifa yang membelah dan membentuk rantai spora ektotrik disebut Adamson's Fringe
  • jamur ikut tumbuh ke arah batang rambut selama pertumbuhan rambut yang akan menyebabkan patahnya rambut dan terjadinya alopesia

Penularan

  • jamur umumnya berasal dari sisir rambut, topi, sarung bantal, mainan dan kursi teater
  • setelah rambut gugur, organisme infeksi masih bisa menular selama lebih dari satu tahun
  • sulit diberantas karena kariernya bersifat asimtomatik

Diagnosis

  • berbeda dengan tipenya
  • umumnya menyerang anak prapubertas
  • rambut rontok yang patah di atas permukaan kulit (bentuk gray patch) atau patah tepat di pangkal rambut (bentuk black dot)
  • kadang disertai peradangan ringan berupa papul, pustul, sampai berat berupa kerion
  • peradangan yang berat dapat meninggalkan alopesia permanen

Pemeriksaan Penunjang


  • pemeriksaan lesi : lampu wood
  • pemeriksaan mikroskopis : KOH 10-20%
  • kultur
Lampu wood :
  • pemeriksaan lesi pada kepala dengan menggunakan lampu Wood dapat menampilkan fluoresen pteridin dari beberapa patogen
  • rambut yang berfluoresensi harus dipilih untuk pemeriksaan lebih lanjut
  • organisme ektotriks seperti microsporum canis dan microsporum audinii akan berfluoresensi pada pemeriksaan lampu wood
  • organisme endotriks seperti trichophyton tonsurans tidak akan berfluoresensi
KOH 10-20% :
  • Bahan diambil dari kerokan kulit kepala dan pencabutan rambut kepala
  • dapat menggunakan pengecatan Swartz-Lamkin, PAS atau Chlorazol Black E untuk mengidentifikasi jamur lebih cepat
  • akan nampak 2 kemungkinan pola gambaran infeksi : ektotrik-kecil atau antrokonidia besar membentuk lapisan pada sekekliling batang rambut dan antrokonidia-endotrik berada di dalam batang rambut
  • peradangan yang berat dapat meninggalkan alopesia permanen
Gambaran histopatologis pada dermis tampak adanya infiltrat perifolikular berupa histiosit, limfosit, eosinofil dan sel plasma.
Kultur :
  • untuk menentukan spesies dermatofit penyebab
  • media kultur yang biasa dipakai adalah agar Sabouraud's
  • jamur akan tumbuh dalam 5-14 hari
  • pertumbuhan jamur dapat dilihat dengan adanya perubahan warna dari kuning ke merah yang mulai setelah 24-48 jam dan jelas dibaca pada hari ke 3-7

Penatalaksanaan

  • perlu dilacak dan eradikasi sumber penularan yang mungkin dari binatang peliharaan atau orang lain yang terinfeksi
  • pengobatan oral paling efektif
  • griseofulvin 10-20 mg/kgBB per hari selama 6-8 minggu sampai 3-4 bulan bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak
  • untuk mempercepat eradikasi jamur dan mencegah penularan perlu ditambahkan penggunaan sampo antijamur misalnya selenium sulfida 1,8%, ketokonazol 2% setiap hari
  • obat alternatif : itrakonazol 100-200 mg/hari atau terbinafin 62,5 mg-250 mg/hari bergantung pada berat badan anak
Obat lain :
  • ketokonazol 3,3-6,6 mg/kgBB selama 3-6 minggu; efektif untuk trichophyton dan kurang efektif untuk microsporum canis; hepatotoksik
  • itrakonazol 3-5 mg/kgBB atau 100 mg/hari selama 5 minggu; sangat efektif untuk microsporum dan trichophyton
  • flukonazol : tidak bergantung makanan, relatif aman dan ditoleransi dengan baik
  • terbinafin 62,5-250 mg/hari selama 6 minggu atau 3-6 mg/kgBB/hari selama 4 minggu; Efek sampingnya dapat berupa gangguan gastrointestinal, pusing, urtikaria, reaksi morbili, sakit kepala, hilangnya rasa pengecap, pansitopenia
  • topikal : sampo ketokonazol 2% atau selenium sulfida 2,5% sebanyak 3 x 1 minggu dan didiamkan pada kulit kepala selama minimal 5 menit

Komplikasi

Prognosis

  • umumnya dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab penyakitnya
  • bila faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan maka umumnya dapat sembuh sempurna

Diagnosis Banding

Referensi

  1. dr. Emmy S. Sjamsoe Daili, SpKK(K), dr. Sri Linuwih Menaldi, SpKK(K), dr. I Made Wisnu, SpKK(K). Penyakit Kulit Yang Umum Di Indonesia : Sebuah Panduan Bergambar. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2005. Hal. 28.
  2. Prof. dr. Muhammad Dali Amiruddin, SpKK., DR. dr. Farida S. Ilyas, SpKK., dr. Syafruddin Amin, SpKK. & dr. Dianawaty Amiruddin, SpKK. Buku Ajar Penyakit Kulit Di Daerah Tropis. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar. Hal. 145-151.

ARTIKEL TERBARU



ARTIKEL FAVORIT



SPONSOR



A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z


Update 13/07/21