Google  Yahoo  MSN

Home Klinik Kedokteran

Bell's Palsy

Edisi 1.1
Oleh : dr. Asep Subarkah


Pengertian

Bell's Palsy adalah penyakit akut dan penyakit sistem saraf tepi berupa paralisis nervus fasialis (N. VII) perifer bersifat unilateral dan idiopatik (idiopatic facial paralysis).

Sinonim : facial nerve disorders, masuk angin | Kompetensi : 4A | Laporan Penyakit : ? | ICD X : G.51.0

Gambar Bells Palsy

Bell's Palsy


loading...

Penjelasan

  1. Bell's palsy berupa paresis akut pada saraf fasialis perifer merupakan kelumpuhan tipe lower motor neuron.
  2. Bell's palsy berupa paralisis saraf fasialis dalam kanalis fasialis.
  3. Bell's palsy berupa paralisis otot wajah unilateral bersifat mendadak (akut), sementara dan self limiting disease yang mengganggu estetika & fungsi wajah.
  4. Bell's palsy karena inflamasi (radang) berlanjut menjadi edema pada saraf fasialis karena ketidakstabilan otonom, penurunan sistem imun dan suhu dingin.

Sejarah

  • penamaannya berasal dari nama Sir Charles Bell (1821), seorang dokter bedah Skotlandia

Epidemiologi

  • insidens 20-25 kasus per 100.000 penduduk di dunia
  • 19,55% dari seluruh kasus neuropati di Indonesia
  • usia terbanyak 21-30 tahun di Indonesia
  • 99,5% kasus kelumpuhan parsial (sebagian) dan 0,5% kasus kelumpuhan total pada wajah
  • sisi kiri wajah lebih banyak (60% kasus) daripada sisi kanan wajah (40% kasus) yang mengalami gangguan motorik

Penyebab

Penyebab bell's palsy belum diketahui namun kuat dugaan berhubungan dengan inflamasi dan edema pada saraf fasialis sehingga saraf tersebut terjepit dalam foramen stilomastoideum (kanalis fasialis / kanalis falopii).
Faktor risiko :
  • kanalis fasialis yang sempit
  • paparan dingin :
    o musim dingin
    o kehujanan
    o udara/angin malam
    o AC/kipas angin
  • infeksi terutama virus HSV tipeI.
  • penyakit autoimun
  • diabetes melitus
  • hipertensi
  • kehamilan terutama trimester III
Dugaan pada anak-anak karena :
Faktor risiko lain :
  • usia lanjut
  • hipotiroidisme
  • trauma
  • kekurangan pasokan oksigen pada saraf yang terkena
  • gangguan stimulus kimiawi
  • gangguan stimulus mekanik
  • gangguan vaskular
  • kelelahan
  • otitis media akut
  • perubahan tekanan atmosfir yang mendadak misalnya saat menyelam atau terbang
  • multiple sclerosis
  • hipertensi arterial : 4% kasus
  • herediter (6% kasus) : autosomal dominan yaitu kelainan kongenital berupa sempitnya kanalis fasialis (kanalis Falopii)

Patofisiologi

  • proses non-supuratif, non neo-plasmatik, non-degeneratif primer
Penyebab inflamasi dan edema pada saraf fasialis :
Kemudian terjadi iskemia dan akhirnya menjadi paralisis saraf fasialis.
Ketidakstabilan otonom akan meningkatkan respon sistem saraf simpatik lalu terjadi vasospasme hingga menyebabkan inflamasi dan edema pada saraf fasialis.
Penurunan sistem imun akan memicu terjadinya infeksi atau reaktivasi infeksi virus (misalnya virus herpes simpleks, virus herpes zoster, virus epstein barr), infeksi bakteri atau infeksi jamur. Ini akan menyebabkan inflamasi, edema, iskemia dan akhirnya menjadi paralisis pada saraf fasialis.
Angin dan suhu dingin akan menyebabkan iritasi dan mendinginnya saraf fasialis (saraf motorik muka) sehingga menimbulkan inflamasi dan edema pada saraf tersebut. Dinginnya saraf motorik muka mengakibatkan impuls saraf tak bisa tersalurkan.

Diagnosis

1. Anamnesis :
Gejala lainnya :
  • nyeri kepala dan perasaan melayang
  • nyeri telinga di sebelah dalam dan belakang ipsilateral 1-2 hari sebelum paralisis fasialis (54% kasus)
  • wajah tidak simetris karena kelemahan pada otot wajah ipsilateral
  • kelemahan bervariasi mulai rasa beban, sensasi mati rasa / baal / kebas, kedutan, kelumpuhan parsial hingga kelumpuhan total di wajah
  • alis mata tidak dapat terangkat
  • kekeringan atau ulserasi pada konjungtiva akibat kelopak mata tidak dapat tertutup
  • hipolakrimasi (5% kasus)
  • sudut mata turun dan mata terlihat juling karena otot mata tertarik
  • telinga hiperakusis ipsilateral (13% kasus) dimana pendengaran sensitif, berdengung dan tidak tahan suara keras
  • penciuman berkurang pada salah satu hidung
  • sulit tersenyum, sulit makan, mulut tidak mampu meniup & berkumur
  • sulit bicara atau bicara kurang jelas karena lidah keluh dan kaku
  • air minum dan air liur mudah menetes karena karena ujung mulut biasanya tertarik ke bawah
  • ageusia / hipogeusia ipsilateral di lidah 2/3 bagian depan (33% kasus)
  • kedutan pada bagian bawah bibir dan bagian lainnya
  • nyeri pada area leher ke atas
  • lengan dan kaki masih bisa digerakkan
Paralisis total dapat terjadi dalam 4 hari pertama karena proses denervasi terjadi dalam 4 hari pertama. Separuh kasus mencapai kelemahan maksimum dalam 48 jam dan seluruh kasus mencapainya dalam 5 hari.
2. Pemeriksaan klinis :
  • tes lakrimasi
  • pemeriksaan fungsi sensorik
  • tes refleks stapedius
  • pemeriksaan fungsi motorik
Pemeriksaan fungsi motorik dengan memeriksa otot-otot wajah :
  • mengangkat alis (otot frontalis)
  • mengerutkan dahi (otot kuragator supersilii)
  • melebarkan cuping hidung lalu melakukan gerakan kompresi transversal hidung (otot nasalis)
  • menutup mata (otot orbikularis okuli)
  • mendekatkan dan menekan kedua bibir (otot orbikularis oris)
  • tersenyum (otot zigomatikus)
  • menyeringai / meringis (otot risorius)
  • meniup (otot buksinator)
  • menggerakkan atau menarik ujung dagu ke atas (otot mentalis)
3. Pemeriksaan Penunjang :
  • uji kepekaan saraf
  • uji konduksi saraf
  • pemeriksaan elektromiografi (EMG)
  • uji fungsi pengecap 2/3 bagian depan lidah
  • uji shirmer
  • pemeriksaan laboratorium : limfosit dan sel-sel mononuklear sedikit meningkat lalu diikuti peningkatan tekanan darah
  • pencitraan : sinar X, MRI, CT scan
Diagnosis pasti dengan pemeriksaan elektromiografi (EMG) dan pencitraan.
Pemeriksaan elektromiografi (EMG) :
  • evaluasi derajat kerusakan sehingga dapat memprediksi prognosis
  • lakukan pada minggu kedua
  • mengukur kegiatan listrik dari otot saat merespon rangsangan dan kecepatan dari konduksi impuls elektrik dalam aliran saraf
  • berupa pemeriksaan refleks kedip (blink reflex)
Pencitraan untuk lebih memastikan bahwa gangguan saraf bukan akibat infeksi, tumor atau kerusakan tulang pada wajah.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan disesuaikan dengan penyebab dan faktor risikonya, antara lain :
  • pengobatan suportif : antiinflamasi kortikosteroid (metilprednisolon, prednison), antihistamin, analgetik (parasetamol, ibuproven), vasodilator, vitamin B1, B6 & B12 (mecobalamin), adenosin trifosfat
  • antivirus (aciclovir 400 mg diberikan 5 kali sehari selama 7 hari)
  • antibiotik okular dan tetes air mata buatan untuk mencegah dan mengatasi iritasi, infeksi dan ulserasi kornea pada mata yang tidak dapat tertutup rapat
  • fisioterapi : masase, terapi panas superfisial, stimulasi listrik (listrik dan akupuntur)
  • terapi fisik : kompres hangat, pijat wajah, latihan menggerakkan otot wajah di depan cermin, mengedipkan mata secara manual, menggunakan pemberat kelopak mata
  • botox (botolinum toxin type A) untuk relaksasi otot-otot wajah
  • akupunktur
  • stimulasi galvanik
  • biofeedback
  • senam otot wajah
  • pembedahan
  • gunakan kacamata saat bepergian
Kortikosteroid diberikan tidak kurang dari 2 hari setelah timbul gejala lalu dilanjutkan sampai 1-2 minggu. Dosis 1 mg/kgbb/hari atau 60 mg p.o diturunkan secara tapp off.

Pemijatan pada otot yang lemah dan perangsangan sarafnya bisa membantu mencegah terjadinya kekakuan otot wajah pada kelumpuhan yang berat.

Vitamin B1, B6 & B12 dosis tinggi untuk pertumbuhan serabut saraf yang rusak.
Cara masase :
  • selama 5 menit pagi & sore atau dengan faradisasi
  • gerakan yang dapat dilakukan berupa tersenyum, mengatupkan bibir, mengerutkan hidung, mengerutkan dahi, gunakan ibu jari dan telunjuk untuk menarik sudut mulut secara manual, mengangkat alis secara manual dengan keempat jari menutup mata
Terapi panas superfisial untuk menghilangkan pembengkakan pada jaringan. Stimulasi listrik untuk merangsang otot yang inervasinya terganggu.
Pembedahan :
  • operasi dekompresi nervus fasialis
  • jika menetap 6 bulan atau lebih
  • tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan komplikasi lokal maupun intra-kranial

Komplikasi

  • bell's palsy berulang (rekuren) 10%
  • fenomena air mata buaya (crocodile tear phenomenon) berupa pengeluaran air mata pada saat makan terutama makanan yang merangsang akibat regenerasi serabut saraf otonom yang salah arah
  • kontraktur otot wajah
  • sinkinesis (gerakan sadar menutup mata, terjadi pengangkatan sudut mulut, kontraksi otot platisma, atau pengerutan dahi akibat regenerasi serabut saraf mencapai otot yang salah)
  • spasme otot wajah
  • neuralgia genikulatum
  • ptosis alis

Prognosis

  • baik
  • perbaikan otot-otot wajah 80-90% kasus dan hanya 10-20% kasus tidak kembali seperti semula
  • 2 dari 3 penderita dapat sembuh dalam beberapa minggu sampai 6 bulan
  • kelumpuhan parsial dapat sembuh total dalam 2 bulan sampai 1 tahun
  • kelumpuhan total bervariasi namun kebanyakan dapat sembuh total
  • penyembuhan total saraf wajah dapat diuji dengan rangsangan listrik
  • penyembuhan lebih cepat karena kerusakan hanya pada selubung saraf
  • kasus tidak sembuh karena terjadi jeratan pada kanalis falopia sehingga menimbulkan kerusakan permanen pada serabut saraf
  • dapat ditentukan melalui pemeriksaan elektromiografi (EMG)

Diagnosis Banding

  • otitis media supuratif dan mastoiditis
  • kolesteatoma
  • herpes zoster otitis (sindrom Ramsay Hunt) : kerusakan saraf wajah karena infeksi herpes zoster di telinga dengan gejala utama vertigo dan tinnitus
  • sindrom Guillain Bare dan miastenia gravis
  • trauma : patah tulang di dasar tengkorak
  • penyakit sistemik : diabetes melitus, hipotiroid
  • stroke : disertai kelemahan anggota gerak
  • trigeminalgia
  • tumor otak yang menekan saraf
  • tumor metastase
  • penyakit Lyme
  • polineuropati
  • sklerosis multipel

Referensi

  1. Utoyo Sunaryo. Bell's Palsy. Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma. Surabaya.
  2. I Wayan Subagiartha. 2001. Gambaran Elektromyografi Sebagai Faktor Penentu Prognosis Bell's Palsy. Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Rumah Sakit Umum Dr. Kariadi. Semarang.
  3. dr. Sri Rejeki. 2012. Bell's Palsy (Penyakit Disfungsi Syaraf Wajah).
  4. Anonim. Penyakit Saraf Bell's Palsy. Ilmu Kesehatan. ilmukesehatan.com
  5. dr. Puspita Komala Sari. Obat Bell's Palsy. Klik Dokter. klikdokter.com
  6. Dr. Fritz Sumantri Usman Sr, Sp.S., FINS. 2012. Kena Bell's Palsy, Apa yang Harus Dilakukan ? Konsultasi Dokter. konsultasi-dokter.blogspot.com
  7. Dr. Michael Setyawan, Sp.S. 2012. Apa Terapi yang Cocok untuk Pasien Bell's Palsy ? Konsultasi Dokter. konsultasi-dokter.blogspot.com
  8. Anonim. Kenali Tanda dan Gejala Bell's Palsy. Ilmu Kesehatan. ilmukesehatan.com
  9. dr. Tiara Rahmawati. Bell's Palsy. Klik Dokter. klikdokter.com
  10. Dokter Sehat. 2014. Apa itu Bell's Palsy ? doktersehat.com
  11. PDUI. 2019. Modul Bell's Palsy. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 2019 Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Sulawesi Selatan

ARTIKEL TERBARU



ARTIKEL FAVORIT



SPONSOR


loading...

A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z


Update 5/09/20