Google  Yahoo  MSN

Home Klinik Kedokteran

Obat Anti Tuberkulosis

Edisi 0.4
Oleh : dr. Asep Subarkah


Pengertian

Obat anti tuberkulosis adalah kombinasi obat yang digunakan untuk penderita tuberkulosis.
Sinonim : anti TB, antituberkulosis, OAT

Gambar Obat Anti Tuberkulosis

Obat Anti Tuberkulosis (klikparu.com)



Penjelasan

Obat anti tuberkulosis adalah kombinasi obat anti tuberkulosis baik yang bersifat bakterisidGambar Bakterisid maupun bakteriostatik. Hampir semua obat anti tuberkulosis bersifat bakterisid kecuali ethambutol (E). Ethambutol (E) hanya bersifat bakteriostatik sehingga masih berperan pada resistensi bakteri. Rifampisin (R) dan pirazinamid (Z) bersifat sterilisasi yang baik.

Komposisi

Kombinasi Untuk Dewasa


  • rifampisin (R)
    o kapsul 150 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 150 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 450 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 300 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 500 mg
  • etambutol (E)
    o tablet 250 mg
    o tablet 500 mg

Kombinasi Untuk Anak


  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 50 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 150 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 50 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 100 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 200 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 100 mg

Jenis

Jenis obat anti tuberkulosis meliputi pemberian jangka pendek (primer) dan jangka panjang.
Pengobatan tuberkulosis primer (lini pertama) meliputi :
Obat primer tuberkulosis sangat efektif dengan efek samping yang masih bisa ditolerir. Sebagian besar penderita bisa sembuh dengan obat ini. Jika pengobatan lini pertama resisten maka berikan pengobatan lini kedua.
Pengobatan tuberkulosis sekunder (lini kedua) meliputi :
  • amikasin
  • streptomisin
  • kanamisin
  • siprofloksasin
  • ofloksasin
  • levofloksasin
  • gatifloksasin
  • Etionamid
  • Protionamid
  • Sikloserin
  • Viomisiun
  • Kapreomisin
  • Klofazimin
Obat alternatif meliputi :
  • PAS (Para Amino Salicylic) Acid
  • tiasetazon
Kategori pemberian obat anti tuberkulosis jangka pendek :
  • Kategori 1 : 2HRZE / 4H3R3
  • Kategori 2 : 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3
  • Kategori 3 : 2HRZ / 4H3R3
  • Obat sisipan : HRZE

Kategori 1


Kategori 1 (2HRZE / 4H3R3) untuk :
  • penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) positif
  • penderita tuberkulosis paru dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) negatif namun hasil foto rontgen positif dan sakit berat
  • penderita tuberkulosis ekstra paru berat

Kategori 2


Kategori 2 (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3) untuk :
  • penderita tuberkulosis paru yang pernah minum obat anti tuberkulosis selama lebih 1 bulan dengan kriteria pada penderita kambuh (relaps)
  • penderita gagal pengobatan (failure) dengan bakteri tahan asam (BTA) positif
  • penderita dengan pengobatan setelah lalai

Kategori 3


Kategori 3 (2HRZ / 4H3R3) untuk :
  • penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil bakteri tahan asam (BTA) negatif tetapi hasil foto rontgen positif dan sakit ringan
  • penderita tuberkulosis ekstra paru ringan

Obat Sisipan


Obat sisipan (HRZE) untuk :
  • penderita dengan kategori 1 & 2 pada akhir tahap intensif pengobatan dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) masih positif

Farmakologi

Tujuan


  • merubah sputum BTA (+) menjadi BTA (-) secepat mungkin melalui efek bakterisid
  • mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan efek sterilisasi
  • menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui efek perbaikan imunologis

Fase


  • fase awal intensif : selama 2 bulan, melalui efek bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat
  • fase lanjut intermitten : melalui efek sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau efek bakteriostatik pada pengobatan konvensional
bakteriGambar Bakteri tahan asam (BTA) : jika bakteri tahan asam (BTA) menjadi negatif pada akhir tahap intensif maka obat anti tuberkulosis diteruskan pada tahap lanjutan; bila bakteri tahan asam (BTA) masih positif pada akhir tahap intensif maka lebih dahulu diberikan obat sisipan sebelum terapi diteruskan pada tahap lanjutan.

Indikasi

Posologi

  • dosis obat anti tuberkulosis untuk anak-anak disesuaikan dengan berat badan.
  • pemberian obat anti tuberkulosis setelah menegakkan diagnosa pasti tuberkulosis

Kategori 1


  • 2HRZE / 4H3R3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 4 bulan
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), dan ethambutol (E)
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H) dan rifampisin (R)

Kategori 2


  • 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan kemudian 1 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 5 bulan
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), ethambutol (E), dan suntikan streptomisin (S)
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H), rifampisin (R), dan ethambutol (E)

Kategori 3


  • 2HRZ / 4H3R3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 4 bulan
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R), dan pirazinamid (Z)
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H) dan rifampisin (R)

Obat Sisipan


  • HRZE
  • pemberian setiap hari selama 1 bulan
  • isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), dan ethambutol (E)

Respons Klinis

  • penderita harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh
  • respons klinis obat anti tuberkulosis dapat terlihat dalam 4-6 minggu
  • jika tidak ada respons klinis setelah 6 minggu pengobatan anti tuberkulosis maka harus dipikirkan kemungkinan infeksi lain, infeksi tuberkulosis di tempat lain atau resistensi obat
  • petugas melakukan 3 kali pemeriksaan ulang dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan
  • kesembuhan TB paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA negatif, perbaikan radiologi dan menghilangnya gejala
  • penderita dinyatakan sembuh bila pada pemeriksaan ulang dahak 1 bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan tidak ditemukan lagi adanya kuman TB
Akibat bila minum obat tidak teratur :
  • penyakit tidak akan sembuh atau bahkan menjadi lebih berat
  • penderita tetap dapat menularkan penyakitnya pada orang lain
  • penyakit semakin sukar diobati karena kuman TB mungkin menjadi kebal sehingga perlu obat yang lebih kuat dan lebih mahal
  • perlu waktu lebih lama untuk sembuh
  • penderita dapat juga menularkan kuman yang sudah kebal obat pada orang lain

Resistensi Obat

  • resistensi obat anti tuberkulosis ditandai oleh respons buruk terhadap terapi serta lesi kulit yang bertambah berat dan luas
  • jika terjadi resistensi obat maka berikan obat anti tuberkulosis lini kedua

Efek Samping

Referensi

  1. Putu Indah Andriani. 2014. Pendekatan Klinis Infeksi Tuberkulosis pada Kulit. Cermin Dunia Kedokteran 219, Vol. 41 No. 8.
  2. Prof. DR. Dr. A. Halim Mubin, SpPD, MSc, KPTI. 2008. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis dan Terapi. Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal. 230-233.
  3. Arif Mansjoer (ed.), dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. III. FKUI. Media Aesculapius. Hal. 473-474.
  4. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) 2013. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.

ARTIKEL TERBARU



ARTIKEL FAVORIT



SPONSOR



A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

Update 21/09/21